MATERI TKT – KOMPETENSI TEKNIS
MATERI TMG – MANAJERIAL
MATERI TSK - SOSIO KULTURAL
1 of 2

1. Jenis-jenis Budi Pekerti

Setelah kita mengetahui bahwa budi pekerti seseorang itu dapat mewujudkan sifat kebatinan seseorang dengan pasti dan tetap, kita juga harus mengetahui juga bahwa tidak ada dua budi pekerti yang sama. Pembagian budi pekerti menjadi beberapa jenis tersebut berdasarkan pada sifat angan-angan, sifat perasaan, dan sifat kemauan (analystis). Kemudian, tiga sifat itu digabungkan menjadi satu (synthetis); sehingga mewujudkan suatu macam atau tipe budi pekerti yang pasti. Salah satu pembagian tipe budi pekerti yang terkenal disampaikan oleh Prof. Dr. Heymans, guru besar Universitas Groningen, yang sudah mengadakan penyelidikan disertai percobaan dan ditetapkan adanya 8 jenis budi pekerti orang.

Selain itu, ada juga yang membagi budi pekerti menjadi beberapa jenis berdasarkan hasrat seseorang. Jadi, bukan pembagian analytis, akan tetapi pembagian secara global dan etis (etis = menurut adab). Adapun Prof. Spranger membagi budi pekerti menjadi 6 jenis, yakni bersandar pada hasrat orang pada: 1) Kekuasaan (machtsmensch), 2) Agama (religiousmensch), 3) Keindahan (kunstmensch), 4) Kegunaan atau faedah (nutsmensch atau econimisch mensch), 5) Pengetahuan atau kenyataan (wetenschaps) dan 6) Menolong mendermakan atau mengabdi (sociale mensch).

Selain dua macam pembagian tersebut terdapat juga teori-teori tentang jenis-jenis budi pekerti yang lain. Misalnya, menghubungkan sifat jasmani seseorang dengan watak orang tersebut (Prof. Kretschner), seperti ilmu firasat dari Imam Syafi’i. Kemudian, terdapat juga pendapat yang mengukur budi pekerti orang dengan melihat cara seseorang memandang dirinya sendiri sebagai pusat pemandangan, atau sebaliknya. Ada juga yang membagi budi pekerti menjadi introversen dan extroversen (Jung), yaitu orang yang selalu memandang ke dalam batinnya sendiri, atau yang memandang kea rah luar.

Dalam soal watak atau budi pekerti manusia, jangan dilupakan bahwa tiap-tiap manusia mendapat pengaruh dari yang menurunkan (eferlijkheidsleer). Jadi, sama juga dengan menurunnya sifat-sifat jasmani dari tiap-tiap orang. Jangan dilupakan juga, bahwa seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, pendidikan dan segala pengalaman tersebut berpengaruh besar pada tumbuhnya budi pekerti.

Scroll to Top