MATERI TKT – KOMPETENSI TEKNIS
MATERI TMG – MANAJERIAL
MATERI TSK - SOSIO KULTURAL
1 of 2

Karakteristik peserta didik : gaya belajar, motivasi, perkembangan emosi

  • Gaya belajar 

Gaya belajar menurut Masganti (2012: 49) didefinisikan sebagai cara yang  cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan  memproses informasi tersebut. DePorter dan Hemacki dalam Masganti (2012; 49)  gaya belajar adalah kombinasi dari cara menyerap, mengatur dan mengolah  informasi. Dari dua pendapat tersebut dapat ditegaskan bahwa gaya belajar  adalah cara yang cenderung dipilih/digunakan oleh peserta didik dalam menerima,  mengatur, dan memproses informasi atau pesan dari komunikator/pemberi informasi. Gaya belajar peserta didik merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam melakukan proses pembelajaran karena dapat mempengaruhi proses dan hasil belajarnya. Gaya belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu  visual, auditif, dan kinestetik. Hal ini juga diungkapkan oleh Connell (dalam Yaumi:  2013: 125) yaitu visual learners, auditory learners, dan kinesthetic learners. 

Pertama, peserta didik visual yaitu peserta didik yang belajarnya akan mudah dan  baik jika melalui visual/penglihatan. Atau dengan perkataan lain modalitas  penglihatan menjadi modal utama bagi peserta didik yang memiliki gaya belajar  ini. Peserta didik kelompok ini memiliki kesulitan jika pembelajaran dilakukan melalui presentasi verbal tanpa disertai gambar-gambar atau simbol visual. Peserta didik bergaya belajar visual memiliki kekuatan visual, sehingga seorang pendidik ketika melakukan proses pembelajaran perlu menggunakan strategi pembelajaran dan media yang dapat mempermudah proses belajar mereka.  Misalnya guru ketika melakukan proses pembelajaran dapat menggunakan media visual seperti: gambar, poster, diagram, handout, powerpoint, peta konsep, bagan,  peta, film, video, multimedia, dan televisi. Di samping itu peserta didik dapat diajak untuk melakukan observasi/mengunjungi ke tempat-tempat seperti: museum dan tempat-tempat peninggalan sejarah. Kegiatan lainnya dapat juga mengajak  peserta didik untuk membaca buku-buku yang berilustrasi visual, menggunakan  warna untuk menandai hal-hal penting dari isi bacaan. 

Kedua, Peserta didik auditori, yaitu mereka yang mempelajari sesuatu akan  mudah dan sukses melalui pendengaran. Alat dari pendengaran merupakan modal  utama bagi peserta didik bergaya belajar ini. Peserta didik yang bergaya belajar  auditori akan menyukai penyajian materi pembelajarannya melalui ceramah dan diskusi. Mereka juga memiliki kekuatan mendengar sangat baik, senang  mendengar dan kemampuan lisan sangat hebat, senang berceritera, mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan, mengenal banyak lagu dan bahkan dapat menirukannya secara cepat dan lengkap. Namun demikian peserta didik yang bertipe belajar auditori mudah kehilangan konsentrasi ketika ada suara suara ribut di sekitarnya, tidak suka pada tugas membaca, dan mereka tidak suka pada jumlah kelompok yang anggotanya terlalu besar. Oleh karena itu pendidik dalam melakukan proses pembelajaran selain melakukan presentasi/ceramah juga dapat:

  1. menggunakan media rekaman seperti kaset audio/CD audio pembelajaran,
  2. peserta didik diajak untuk berpartisipasi dalam diskusi,
  3. upayakan suasana belajar jauh dari kebisingan atau keributan, dan
  4. dapat menggunakan musik untuk mengajarkan suatu topik/materi pelajaran tertentu.

Ketiga, Peserta didik dengan gaya belajar kinestetik, adalah peserta didik yang melakukan aktivitas belajarnya secara fisik dengan cara bergerak, menyentuh/meraba, dan melakukan. Peserta didik tipe belajar melalui anggota tubuhnya atau menggunakan fisik lebih banyak dari pada melihat dan mendengarkan, seperti senang bergerak/berpindah ketika belajar, mengoyang goyangkan kaki, tangan, kepala, gemar/suka menulis dan mengerjakan sesuatu dengan tangannya, banyak menggunakan bahasa non verbal/bahasa tubuh, suka menyentuh sesuatu yang dijumpainya. Sebaliknya peserta didik yang bergaya belajar kinestetik sulit berdiam diri dalam waktu lama, sulit mempelajari sesuatu yang abstrak, seperti rumus- rumus, dan kurang mampu menulis dengan rapi. Oleh karena itu jika pendidik menghadapi peserta didik bergaya belajar kinestetik maka dalam proses pembelajarannya 1) dapat menggunakan objek nyata untuk belajar konsep baru, dan 2) mengajak peserta didik untuk belajar engeksplorasi lingkungan. Menentukan peserta didik bergaya belajar visual, auditori, atau kinestetik memang  tidaklah mudah. Namun guru perlu mengetahui gaya belajar yang dimiliki peserta didiknya. Connel (dalam Yaumi 2013: 127) memberikan cara dengan menggunakan angket Gaya Belajar Anak. Dalam angket ini peserta didik diberikan sepuluh pertanyaan yaitu:

  1. Bagaimana kebiasaan anda dalam belajar sesuatu yang baru?
  2. Apa yang biasa anda lakukan di dalam rumah pada waktu senggang?
  3. Apa yang biasa anda lakukan pada akhir pekan?
  4. Bagaimana cara yang terbaik bagi anda dalam mengingat nomor telepon,
  5. Apa yang anda  perhatikan ketika menonton film?,
  6. Ketika anda membaca bukju ceritera apa  yang paling diperhatikan?
  7. Bagaimana anda menceriterakan kepada seseorang  tentang binatang yang luar biasa yang pernah anda lihat?
  8. Saya baru  memahami sesuatu itu bagus sekali setelah saya?
  9. Salah satu kebiasaan saya  untuk menghabiskan waktu adalah….
  10. Ketika saya bertemu dengan orang  baru, saya biasa mengingat…. 

Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut akan diketahui kecenderungan gaya  belajar yang dimilikinya. Dengan diketahuinya gaya belajar yang dimiliki peserta  didik, maka akan berimplikasi terhadap model pembelajaran, strategi, metode, dan  media pembelajaran yang akan digunakan.

  • Motivasi 

Motivasi telah banyak didefinisikan oleh para ahli, diantaranya oleh Wlodkowski  (dalam Suciati, 1994:41) yaitu suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan  (persistence) pada tingkah laku tersebut. Motivasi kadang timbul dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi instrinsik dan kadang motivasi itu muncul karena faktor  dari luar dirinya sendiri (motivasi ekstrinsik). Disamping itu motivasi peserta didik dalam belajar kadang tinggi, sedang, atau bahkan rendah. Motivasi belajar yang tinggi dari peserta didik akan tampak dari ketekunannya dalam belajar yang tidak mudah patah untuk mencapai keberhasilan meskipun banyak rintangan yang dihadapinya. Motivasi yang tinggi dari peserta didik dapat menggiatkan aktivitas belajarnya. Seseorang memiliki motivasi tinggi atau tidak dalam belajarnya dapat terlihat dari tiga hal: 1) kualitas keterlibatannya, 2) perasaan dan keterlibatan afektif peserta didik, 3) upaya peserta didik untuk senantiasa memelihara/menjaga  motivasi yang dimiliki.

Seorang pendidik pada abad 21 ini perlu memahami motivasi belajar peserta didiknya dan bahkan harus selalu dapat menjadi motivator peserta didiknya, karena pada abad 21 ini banyak godaan di sekeliling peserta didik seperti game pada computer personal, dan game online, dan film-film pada pesawat televisi ataupun lewat media massa atau sosial lainnya. Upaya yang dapat dilakukan pendidik untuk memotivasi peserta didik diantaranya: menginformasikan pentingnya/manfaat mempelajari suatu topic tertentu, menginformasikan tujuan/kompetensi yang akan dicapai dari proses pembelajaran yang dilakukannya, memberikan humor, menggunakan media pembelajaran, dan juga memberi reward/hadiah/pujian.

  • Perkembangan emosi 

Emosi telah banyak didefinisikan oleh para ahli, diantaranya Kartono dalam  Sugihartono (2013: 20) mendefinisikan emosi sebagai tergugahnya perasaan yang  disertai dengan perubahan-perubahan dalam tubuh, misalnya otot menegang, dan  jantung berdebar. Dengan emosi peserta didik dapat merasakan senang/gembira,  aman, semangat, bahkan sebaliknya peserta didik merasakan sedih, takut, dan  sejenisnya. 

Emosi sangat berperan dalam membantu mempercepat atau justru memperlambat  proses pembelajaran. Emosi juga berperan dalam membantu proses  pembelajaran tersebut menyenangkan atau bermakna. Goleman, (dalam  Sugihartono, 2013: 21) menyatakan bahwa tanpa keterlibatan emosi, kegiatan  saraf otak kurang mampu “merekatkan” pelajaran dalam ingatan. Suasana emosi  yang positif atau menyenangkan atau tidak menyenangkan membawa pengaruh  pada cara kerja struktur otak manusia dan akan berpengaruh pula pada proses  dan hasil belajar. Atas dasar hal ini pendidik dalam melakukan proses  pembelajaran perlu membawa suasana emosi yang senang/gembira dan tidak  memberi rasa takut pada peserta didik. Untuk itu bisa dilakukan dengan model  pembelajaran yang menyenangkan (enjoy learning), belajar melalui permainan  (misalnya belajar melalui bermain monopoli pembelajaran, ular tangga  pembelajaran, kartu kwartet pembelajaran) dan media sejenisnya.

Scroll to Top