MATERI TKT – KOMPETENSI TEKNIS
MATERI TMG – MANAJERIAL
MATERI TSK - SOSIO KULTURAL
1 of 2

Karakteristik peserta didik : minat, perkembangan kognitif, kemampuan awal

  • Minat 

Minat dapat diartikan suatu rasa lebih suka, rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas. Hurlock (1990: 114) menyatakan bahwa minat merupakan suatu sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan yang dipilihnya. Apabila seseorang melihat sesuatu yang memberikan manfaat, maka dirinya akan memperoleh kepuasan dan akan berminat pada hal tersebut. Lebih lanjut Sardiman, (2011: 76) menjelaskan bahwa minat sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan deinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu apa yang dilihat seseorang sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingan orang tersebut. 

Atas dasar hal tersebut sebenarnya minat seseorang khususnya minat belajar peserta didik memegang peran yang sangat penting. Sehingga perlu untuk terus ditumbuh kembangkan sesuai dengan minat yang dimiliki seorang peserta didik.

Namun sebagaimana kita ketahui bahwa minat belajar peserta didik tidaklah sama, ada peserta didik yang memiliki minat belajarnya tinggi, ada yang sedang, dan bahkan rendah. Untuk mengetahui apakah peserta didik memiliki minat belajar yang tinggi atau tidak sebenarnya dapat dilihat dari indikator minat itu sendiri. Indikator minat meliputi: perasaan senang, ketertarikan peserta didik, perhatian dalam belajar, keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran, manfaat dan fungsi mata pelajaran. Agar diperoleh gambaran yang lebih jelas maka akan diuraikan dalam paparan berikut.

Perasaan senang, seseorang peserta didik yang memiliki perasaan senang atau suka terhadap mata pelajaran tertentu akan memperlihatkan tindakan yang bersemangat terhadap hal tersebut. Contohnya, peserta didik yang gemar dengan mata pelajaran Matematika, maka peserta didik tersebut akan merasa bersemangat dan terus mempelajari ilmu yang berkaiatan dengan Matematika,  tanpa ada perasaan terpaksa dalam belajar. Ketertarikan peserta didik, ini  berkaitan dengan daya gerak yang mendorong peserta didik untuk cenderung  merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan, dapat berupa pengalaman yang  dirangsang oleh kegiatan itu sendiri, Perhatian dalam belajar, perhatian atau  konsentrasi dapat diartikan terpusatnya mental seseorang terhadap suatu objek.  Peserta didik yang memiliki minat terhadap objek tertentu, maka peserta didik  tersebut dengan sendirinya peserta didik tersebut memperhatikan objek tersebut.

  • Perkembangan Kognitif 

Tingkat perkembangan kognitif yang dimiliki peserta didik akan mempengaruhi guru dalam memilih dan menggunakan pendekatan pembelajaran, metode, media, dan jenis evaluasi. Taman Kanak-kanak yang peserta didiknya sekitar berumur 5-6 tahun, sudah tentu berbeda pendekatan, metode, dan media yang digunakan ketika menghadapi peserta didik. Sekolah Dasar yang peserta didiknya berusia 7-11 tahun, dan peserta didik Sekolah Menengah Pertama yang usianya berkisar 12-14 tahun dan juga peserta didik Sekolah Menengah Atas atau Sekolah Menengah Kejuruan, yang umumnya berusia 15-17 tahun, karena dilihat dari perkembangan intelektualnya jelas berbeda. Menurut Piaget perkembangan intelektual anak usia Taman Kanak-Kanak berada pada taraf pra operasional konkrit sedangkan peserta didik Sekolah Dasar berada pada tahap operasional konkrit, dan peserta didik Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah  Atas atau Sekolah Menengah Kejuruan pada tahap operasional formal. Tahap-tahap perkembangan intelektual peserta didik menurut Piaget dalam Masganti (2012: 83) secara lengkap dapat disajikan sebagai berikut:

0,0 – 2,0 Tahun Tahap Sensorimotorik 

2,0 – 7,0 Tahun Tahap Preoperasional 

7,0 – 11,0 Tahun Tahap Operasional kongkret 

11,0 – 15,0 Tahun Tahap Operasional formal

Berdasarkan teori perkembangan dari Piaget tersebut, selanjutnya dapat diketahui  tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual.  Ruseffendi dalam Dwi Siswoyo, dkk. (2013: 101) menyebutkan sebagai berikut: 1). Bahwa perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya setiap manusia akan mengalami urutan tersebut dan dengan urutan yang sama; 2). Bahwa tahap-tahap perkembangan didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental  (pengurutan, pengekalan, pengelompokkan, pembuatan hipotesis dan penarikan  kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual. 3) Bahwa gerak melalui melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi). Uraian lebih lanjut tentang perkembangan koginitif dari Piaget dapat Anda dicermati pada kegiatan belajar 3 tentang Teori Belajar Kognitif.

  • Kemampuan/pengetahuan awal 

Selanjutnya kita akan mengkaji tentang kemampuan/pengetahuan awal peserta didik. Kemampuan awal atau entry behavior menurut Ali (1984: 54) merupakan  keadaan pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki terlebih dahulu oleh peserta didik sebelum mempelajari pengetahuan atau keterampilan baru.  Pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki terlebih dahulu maksudnya  adalah pengetahuan atau keterampilan yang lebih rendah dari apa yang akan dipelajari. Contohnya Siswa sebelum mempelajari tentang pembagian maka siswa tersebut harus mengusai terlebih dahulu tentang konsep pengurangan. Kemampuan awal bagi peserta didik akan banyak membawa pengaruh terhadap  hasil belajar yang dicapainya. Oleh karena itu seorang pendidik harus mengetahui  kemampuan awal peserta didiknya. Jika kemampuan awal peserta didik telah  diketahui oleh pendidik, maka pendidik tersebut akan dapat menetapkan dari  mana pembelajarannya akan dimulai. Kemampuan awal peserta didik bersifat  individual, artinya berbeda antara peserta didik satu dengan lainnya, sehingga untuk pengetahuinya juga harus bersifat individual.

Cara untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dapat dilakukan melalui  teknik tes yaitu pre tes atau tes awal dan teknik non tes seperti wawancara. Melalui wawancara dan tes awal maka kemampuan awal peserta didik dapat diketahui. Kemampuan menjawab tes awal dapat dijadikan dasar untuk menetapkan materi pembelajaran.

Scroll to Top